3/27/2013

ANALISIS VEGETASI

BAB I

PENDAHULUAN

I. 1  Latar Belakang
Analisis vegetasi merupakan cara yang dilakukan untuk mengetahui seberapa besar sebaran berbagai spesies dalam suatu area melaui pengamatan langsung. Dilakukan dengan membuat plot dan mengamati morfologi serta identifikasi vegetasi yang ada.
Kehadiran vegetasi pada suatu landscape akan memberikan dampak positif bagi keseimbangan ekosistem dalam skala yang lebih luas. Secara umum peranan vegetasi dalam suatu ekosistem terkait dengan pengaturan keseimbangan karbon dioksida dan oksigen dalam udara, perbaikan sifat fisik, kimia dan biologis tanah, pengaturan tata air tanah dan lain-lain. Meskipun secara umum kehadiran vegetasi pada suatu area memberikan dampak positif, tetapi pengaruhnya bervariasi tergantung pada struktur dan komposisi vegetasi yang tumbuh pada daerah itu. Sebagai contoh vegetasi secara umum akan mengurangi laju erosi tanah, tetapi besarnya tergantung struktur dan komposisi tumbuhan yang menyusun formasi vegetasi daerah tersebut.
Dalam komunitas vegetasi, tumbuhan yang mempunyai hubungan di antara mereka, mungkin pohon, semak, rumput, lumut kerak dan Thallophyta, tumbuh-tumbuhan ini lebih kurang menempati strata atau lapisan dari atas ke bawah secara horizontal, ini disebut stratifikasi. Individu yang menempati lapisan yang berlainan menunjukkan perbedaan-perbedaan bentuk pertumbuhan, setiap lapisan komunitas kadang-kadang meliputi klas-klas morfologi individu yang berbeda seperti, strata yang paling tinggi merupakan kanopi pohon-pohon atau liana. Untuk tujuan ini, tumbuh-tumbuhan mempunyai klas morfologi yang berbeda yang terbentuk dalam “sinusie” misalnya pohon dalam sinusie pohon, epifit dalam sinusie epifit dan sebagainya (Hadisubroto, 1989). Maka dari itu dilakukanlah percobaan ini.

I. 2 Tujuan Percobaan
            Tujuan percobaan ini, adalah :
1)         Untuk mengetahui kepadatan, frekuensi, dan dominasi dari organisme penyusun dalam suatu komunitas dengan menggunakan metode petak tunggal, petak ganda, line transek dan belt transek.
2)         Melatih keterampilan mahasiswa dalam menggunakan teknik-teknik sampling organisme dan rumus-rumus sederhana dalam analisis populasi.

I. 3 Waktu dan Tempat Percobaan
Percobaan ini dilakukan pada hari Minggu tanggal 15 April 2012 pukul 09.15 sampai 14.30 di Canopy, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Vegetasi dalam ekologi adalah istilah untuk keseluruhan komunitas tetumbuhan. Vegetasi merupakan bagian hidup yang tersusun dari tetumbuhan yang menempati suatu ekosistem. Beraneka tipe hutan, kebun, padang rumput, dan tundra merupakan contoh-contoh vegetasi. Analisis vegetasi adalah cara mempelajari susunan (komposisi jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan. Dalam ekologi hutan satuan yang diselidiki adalah suatu tegakan, yang merupakan asosiasi konkrit (Rohman dan Sumberartha, 2001).
Analisis vegetasi dapat digunakan untuk mempelajari susunan dan bentuk vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan (Rohman dan Sumberatha, 2001) :
1.      Mempelajari tegakan hutan, yaitu tingkat pohon dan permudaannya.
2.      Mempelajari tegakan tumbuh-tumbuhan bawah, yang dimaksud tumbuhan bawah adalah suatu jenis vegetasi dasar yang terdapat dibawah tegakan hutan kecuali permudaan pohon hutan, padang rumput/alang-alang dan vegetasi semak belukar.
Dalam ilmu vegetasi telah dikembangkan berbagai metode untuk menganalisis suatu vegetasi yang sangat membantu dalam mendekripsikan suatu vegetasi sesuai dengan tujuannya. Dalam hal ini suatu metodologi sangat berkembang dengan pesat seiring (Syafei, 1990).
Pengamatan parameter vegetasi berdasarkan bentuk hidup pohon, perdu, serta herba. Suatu ekosistem alamiah maupun binaan selalu terdiri dari dua komponen utama yaitu komponen biotik dan abiotik. Vegetasi atau komunitas tumbuhan merupakan salah satu komponen biotik yang menempati habitat tertentu seperti hutan, padang ilalang, semak belukar dan lain-lain (Syafei, 1990).
Struktur dan komposisi vegetasi pada suatu wilayah dipengaruhi oleh komponen ekosistem lainnya yang saling berinteraksi, sehingga vegetasi yang tumbuh secara alami pada wilayah tersebut sesungguhnya merupakan pencerminan hasil interaksi berbagai faktor lingkungan dan dapat mengalami perubahan drastik karena pengaruh anthropogenik (Setiadi, 1984).
Metodologi-metodologi yang umum dan sangat efektif serta efisien jika digunakan untuk penelitian, yaitu metode kuadrat, metode garis, metode tanpa plot dan metode kwarter. Akan tetapi dalam praktikum kali ini hanya menitik beratkan pada penggunaan analisis dengan metode garis dan metode intersepsi titik (metode tanpa plot) (Syafei, 1990).
Metode garis merupakan suatu metode yang menggunakan cuplikan berupa garis. Penggunaan metode ini pada vegetasi hutan sangat bergantung pada kompleksitas hutan tersebut. Dalam hal ini, apabila vegetasi sederhana maka garis yang digunakan akan semakin pendek. Vegetasi atau komunitas tumbuhan merupakan salah satu komponen biotik yang menempati habitat tertentu seperti hutan, padang ilalang, semak belukar dan lain-lain. Untuk hutan, biasanya panjang garis yang digunakan sekitar 50 m-100 m. sedangkan untuk vegetasi semak belukar, garis yang digunakan cukup 5 m-10 m. Apabila metode ini digunakan pada vegetasi yang lebih sederhana, maka garis yang digunakan cukup 1 m (Syafei, 1990).
Pada metode garis ini, system analisis melalui variable-variabel kerapatan, kerimbunan, dan frekuensi yang selanjutnya menentukan INP (indeks nilai penting) yang akan digunakan untuk memberi nama sebuah vegetasi. Kerapatan dinyatakan sebagai jumlah individu sejenis yang terlewati oleh garis. Kerimbunan ditentukan berdasar panjang garis yang tertutup oleh individu tumbuhan, dan dapat merupakan prosentase perbandingan panjang penutupan garis yang terlewat oleh individu tumbuhan terhadap garis yang dibuat Frekuensi diperoleh berdasarkan kekerapan suatu spesies yang ditemukan pada setiap garis yang disebar (Rohman dan Sumberatha, 2001).
Sedangkan metode intersepsi titik merupakan suatu metode analisis vegetasi dengan menggunakan cuplikan berupa titik. Pada metode ini tumbuhan yang dapat dianalisis hanya satu tumbuhan yang benar-benar terletak pada titik-titik yang disebar atau yang diproyeksikan mengenai titik-titik tersebut. Dalam menggunakan metode ini variable-variabel yang digunakan adalah kerapatan, dominansi, dan frekuensi (Rohman dan Sumberatha, 2001).
Kelimpahan setiap spesies individu atau jenis struktur biasanya dinyatakan sebagai suatu persen jumlah total spesises yang ada dalam komunitas, dan dengan demikian merupakan pengukuran yang relatife. Dari nilai relative ini, akan diperoleh sebuah nilai yang merupak INP. Nilai ini digunakan sebagai dasar pemberian nama suatu vegetasi yang diamati.Secara bersama-sama, kelimpahan dan frekuensi adalah sangat penting dalam menentukan struktur komunitas (Michael, 1995).
Hal yang perlu diperhatikan dalam analisis vegetasi adalah penarikan unit contoh atau sampel. Dalam pengukuruan dikenal dua jenis pengukuran untuk mendapatkan informasi atau data yang diinginkan. Kedua jenis pengukuran tersebut adalah pengukuran yang bersifat merusak (destructive measures) dan pengukuran yang bersifat tidak merusak (non-destructive measures).
Untuk keperluan penelitian agar hasil datanya dapat dianggap sah (valid) secara statistika, penggunaan kedua jenis pengukuran tersebut mutlak harus menggunakan satuan contoh (sampling unit), apalagi bagi seorang peneliti yang mengambil objek hutan dengan cakupan areal yang luas. Dengan sampling, seorang peneliti/surveyor dapat memperoleh informasi/data yang diinginkan lebih cepat dan lebih teliti dengan biaya dan tenaga lebih sedikit bila dibandingkan dengan inventarisasi penuh (metoda sensus) pada anggota suatu populasi. Untuk kepentingan deskripsi vegetasi ada tiga macam parameter kuantitatif vegetasi yang sangat penting yang umumnya diukur dari suatu tipe komunitas tumbuhan yaitu kerapatan (density), frekuensi, dan cover (kelindungan) (Irwanto, 2010).
Kerapatan adalah jumlah individu suatu jenis tumbuhan dalam suatu luasan tertentu, misalnya 100 individu/ha.Dalam mengukur kerapatan biasanya muncul suatu masalah sehubungan dengan efek tepi (side effect) dan life form (bentuk tumbuhan). Untuk mengukur kerapatan pohon atau bentuk vegetasi lainnya yang mempunyai batang yang mudah dibedakan antara satu dengan lainnya umumnya tidak menimbulkan kesukaran yang berarti. Tetapi, bagi tumbuhan yang menjalar dengan tunas pada buku-bukunya dan berrhizoma (berakar rimpang) akan timbul suatu kesukaran dalam penghitungan individunya. Untuk mengatasi hal ini, maka kita harus membuat suatu kriteria tersendiri tentang pengertian individu dari tipe tumbuhan tersebut.
Masalah lain yang harus diatasi adalah efek tepi dari kuadrat sehubungan dengan keberadaan sebagian suatu jenis tumbuhan yang berada di tepi kuadrat, sehingga kita harus memutuskan apakah jenis tumbuhan tersebut dianggap berada dalam kuadrat atau di luar kuadrat. Untuk mengatasi hal ini biasanya digunakan perjanjian bahwa bila > 50% dari bagian tumbuhan tersebut berada dalam kuadrat, maka dianggap tumbuhan tersebut berada dalam kuadrat dan tentunya barns dihitung pengukuran kerapatannya (Irwanto, 2010).
Frekwensi suatu jenis tumbuhan adalah jumlah petak contoh dimana ditemukannya jenis tersebut dari sejumlah petak contoh yang dibuat. Biasanya frekwensi dinyatakan dalam besaran persentase.   Misalnya jenis Avicennia marina (api-api) ditemukan dalam 50 petak contoh dari 100 petak contoh yang dibuat, sehingga frekwensi jenis api-api tersebut adalah 50/100 x 100% = 50%. Jadi dalam penentuan frekwensi ini tidak ada counting, tetapi hanya suatu perisalahan mengenai keberadaan suatu jenis saja (Irwanto, 2010).
Kelindungan adalah proporsi permukaan tanah yang ditutupi oleh proyeksi tajuk tumbuhan. Oleh karena itu, kelindungan selalu dinyatakan dalam satuan persen. Misalnya, jenis Rhizophora apiculata (bakau) mempunyai proyeksi tajuk seluas 10 mZ dalam suatu petak contoh seluas 100 m-, maka kelindungan jenis bakau tersebut adalah 10/100 x 100% = 10%. Jumlah total kelindungan semua jenis tumbuhan dalam suatu komunitas tumbuhan mungkin lebih dari 100%, karena sering proyeksi tajuk dari satu tumbuhan dengan tumbuhan lainnya bertumpang tindih (overlapping). Sebagai pengganti dari luasan areal tajuk, kelindungan bisa juga mengimplikasikan proyeksi basal area pada suatu luasan permukaan tanah.dan luasannya diukur dengan planimeter atau sistem dot­grid dengan kertas grafik (Irwanto, 2010). 
Basal area ini merupakan suatu luasan areal dekat permukaan tanah yang dikuasai oleh tumbuhan. Untuk pohon, basal area diduga dengan mengukur diameter batang. Dalam hal ini, pengukuran diameter umumnya dilakukan pada ketinggian 1.30 m dari permukaan tanah (diameter setinggi data atau diameter at breast height, DBf) (Irwanto, 2010).
BAB III
METODE KERJA
III. 1 Alat
Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah meteran, patok 20 buah, alat tulis menulis serta areal yang diamati.

III. 2 Bahan
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini yaitu rumput dan tali rafia.

III. 3 Prosedur Kerja
A. Pengambilan Data
I.    Metode Plot Acak Berganda
1.   Ditentukan daerah yang akan diamati oleh masing-masing kelompok.
2.   Ditentukan ukuran petak dengan melalui Kurva spesies area. Kemudian petak tersebut dibuang ke belakang oleh praktikan tanpa melihat daerah yang akan diamati.
3.   Dihitung jenis dan jumlah rerumputan yang ada dalam petak tersebut kemudian dicatat hasilnya.
4.   Dilakukan percobaan ini sebanyak tiga kali.
II. Metode Line Transek
1.   Ditentukan daerah yang akan diamati oleh masing-masing kelompok.
2.   Dibentangkan sepasang tali rafia sepanjang 50 meter dengan jarak antar tali kira-kira 1 cm, dan jarak ke tanah tidak lebih dari 10 cm.
3.   Dihitung jenis dan jumlah rerumputan yang ada pada bagian antara kedua tali tersebut, kemudian dicatat hasilnya.
4.   Dilakukan percobaan ini sebanyak tiga kali di lokasi yang berbeda-beda.
III. Metode Belt Transek
1.   Ditentukan daerah yang akan diamati oleh masing-masing kelompok.
2.   Dibentangkan sepasang tali rafia sepanjang 50 meter, dengan jarak antar tali tersebut 5 meter dan jarak ke tanah kira-kira setinggi dada orang dewasa.
3.   Kemudian, dibuat petak–petak di antara tali-tali tersebut, dengan panjang 5 meter. Jadi di dalam bentangan tali tersebut terdapat 10 petak-petak yang lebih kecil.
4.   Diamati dan dihitung jumlah pohon yang ada di dalam tiap petak-petak tersebut. Dicatat hasilnya.
IV.  Metode Loop
1.   Ditentukan daerah yang akan diamati oleh masing-masing kelompok.
2.   Dibentangkan tali sepanjang 33,3 meter, dan diberi titik pada tali tersebut tiap jarak 33,3 cm. Ditiap titik tersebut diamati tumbuhan apa yang hidup dengan menggunakan bantuan gelas akua untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat
A.    Penghitungan Data
I. Metode Plot Acak Berganda
1.   Kerapatan Mutlak (KM)
KM(i) = n(i) / A
Dimana:
KM(i) = kerapatan mutlak
n(i) = jumlah spesies (i)
A = total luas plot
2.   Kerapatan Relatif (KR)
KR(i) = (KM(i) / ∑ KM)  x  100%
Dimana:
KR(i) = kerapatan relatif spesies (i)
KM(i) = nilai KM spesies (i)
∑ KM = jumlah KM total
3.   Frekuensi Mutlak (FM)
FM(i) = J(i) / K
Dimana:
FM(i) = frekuensi mutlak spesies (i)
J(i) = jumlah plot yang terisi
K = total plot
           4.   Frekuensi Relatif (FR)
FR(i) = (FM(i) / ∑ FM) x 100%
Dimana:
FR(i) = frekuensi relatif spesies (i)
FM(i) = frekuensi mutlak spesies (i)
 ∑ FM = total FM
5.   Dominansi Mutlak (DM)
DM(i) = n(i) / ∑ n

Dimana:
DM(i) = dominansi mutlak spesies (i)
n(i) = jumlah individu spesies (i)
∑ n = total individu
6.   Dominansi Relatif (DR)
DR(i) = (DM(i) / ∑ DM) x 100%
Dimana:
DR(i) = dominansi relatif spesies (i)
DM(i) = dominansi mutlak spesies (i)
∑ DM = jumlah DM total
7.   Indeks Nilai Penting (INP)
INP(i) = KR(i) + FR(i) + DR(i)
Dimana:
INP(i) = indeks nilai penting spesies (i)
KR(i) = kerapatan relatif spesies (i) (%)
FR(i) = frekuensi relatif spesies (i) (%)
DR(i) = dominansi relatif spesies (i) (%)
8.   Summed Dominance Ratio (SDR)
SDR(i) = INP(i) / 3
Dimana:
SDR(i) = Summed Dominance Ratio spesies (i)
INP(i) = indeks nilai penting spesies (i)

I. Metode Line Transek
1.    Kerapatan Mutlak (KM)
KM(i) = n(i) / L
Dimana:
KM(i) = kerapatan mutlak
n(i) = jumlah spesies (i)
L = total panjang tali
2.      Kerapatan Relatif (KR)
KR(i) = (KM(i) / ∑ KM)  x  100%
Dimana:
KR(i) = kerapatan relatif spesies (i)
KM(i) = nilai KM spesies (i)
∑ KM = jumlah KM total
3.      Frekuensi Mutlak (FM)
FM(i) = J(i) / K
Dimana:
FM(i) = frekuensi mutlak spesies (i)
J(i) = jumlah plot yang terisi
K = total plot
4.      Frekuensi Relatif (FR)
FR(i) = (FM(i) / ∑ FM) x 100%
Dimana:
FR(i) = frekuensi relatif spesies (i)
FM(i) = frekuensi mutlak spesies (i)
 ∑ FM = total FM
5.      Dominansi Mutlak (DM)
DM(i) = n(i) / ∑ n
Dimana:
DM(i) = dominansi mutlak spesies (i)
n(i) = jumlah individu spesies (i)
∑ n = total individu
6.      Dominansi Relatif (DR)
DR(i) = (DM(i) / ∑ DM) x 100%
Dimana:
DR(i) = dominansi relatif spesies (i)
DM(i) = dominansi mutlak spesies (i)
∑ DM = jumlah DM total
7.      Indeks Nilai Penting (INP)
INP(i) = KR(i) + FR(i) + DR(i)
Dimana:
INP(i) = indeks nilai penting spesies (i)
KR(i) = kerapatan relatif spesies (i) (%)
FR(i) = frekuensi relatif spesies (i) (%)
DR(i) = dominansi relatif spesies (i) (%)
8.      Summed Dominance Ratio (SDR)
SDR(i) = INP(i) / 3
Dimana:
SDR(i) = Summed Dominance Ratio spesies (i)
INP(i) = indeks nilai penting spesies (i)
I. Metode Belt Transek
1.      Kerapatan Mutlak (KM)
KM(i) = n(i) / A
Dimana:
KM(i) = kerapatan mutlak
n(i) = jumlah spesies (i)
A = total luas plot
2.      Kerapatan Relatif (KR)
KR(i) = (KM(i) / ∑ KM)  x  100%
Dimana:
KR(i) = kerapatan relatif spesies (i)
KM(i) = nilai KM spesies (i)
∑ KM = jumlah KM total
3.      Frekuensi Mutlak (FM)
FM(i) = J(i) / K
Dimana:
FM(i) = frekuensi mutlak spesies (i)
J(i) = jumlah plot yang terisi
K = total plot

4.      Frekuensi Relatif (FR)
FR(i) = (FM(i) / ∑ FM) x 100%
Dimana:
FR(i) = frekuensi relatif spesies (i)
FM(i) = frekuensi mutlak spesies (i)
 ∑ FM = total FM
5.      Basal Area (DM) (Dominansi)
DM = LBA / A
Dimana:
DM = basal area
LBA = luas basal daerah (m2)  = 0,23d2
A = luas transek (m2)
6.      Dominansi Relatif (DR)
DR(i) = (DM(i) / ∑ DM) x 100%
Dimana:
DR(i) = dominansi relatif spesies (i)
DM(i) = dominansi mutlak spesies (i)
∑ DM = jumlah DM total
7.      Indeks Nilai Penting (INP)
INP(i) = KR(i) + FR(i) + DR(i)

Dimana:
INP(i) = indeks nilai penting spesies (i)
KR(i) = kerapatan relatif spesies (i) (%)
FR(i) = frekuensi relatif spesies (i) (%)
DR(i) = dominansi relati spesies (i) (%)
8.      Summed Dominance Ratio (SDR)
SDR(i) = INP(i) / 3
Dimana:
SDR(i) = Summed Dominance Ratio spesies (i)
INP(i) = indeks nilai penting spesies (i)
I. Metode Loop
1.      Kerapatan Mutlak (KM)
KM(i) = n(i) / L
Dimana:
KM(i) = kerapatan mutlak
n(i) = jumlah spesies (i)
L = total panjang tali
2.      Kerapatan Relatif (KR)
KR(i) = (KM(i) / ∑ KM)  x  100%
Dimana:
KR(i) = kerapatan relatif spesies (i)
KM(i) = nilai KM spesies (i)
∑ KM = jumlah KM total
3.      Frekuensi Mutlak (FM)
FM(i) = J(i) / K
Dimana:
FM(i) = frekuensi mutlak spesies (i)
J(i) = jumlah plot yang terisi
K = total plot
4.      Frekuensi Relatif (FR)
FR(i) = (FM(i) / ∑ FM) x 100%
Dimana:
FR(i) = frekuensi relatif spesies (i)
FM(i) = frekuensi mutlak spesies (i)
 ∑ FM = total FM
5.      Dominansi Mutlak (DM)
DM(i) = n(i) / ∑ n
Dimana:
DM(i) = dominansi mutlak spesies (i)
n(i) = jumlah individu spesies (i)
∑ n = total individu
6.      Dominansi Relatif (DR)
DR(i) = (DM(i) / ∑ DM) x 100%
Dimana:
DR(i) = dominansi relatif spesies (i)
DM(i) = dominansi mutlak spesies (i)
∑ DM = jumlah DM total

7.      Indeks Nilai Penting (INP)
INP(i) = KR(i) + FR(i) + DR(i)
Dimana:
INP(i) = indeks nilai penting spesies (i)
KR(i) = kerapatan relatif spesies (i) (%)
FR(i) = frekuensi relatif spesies (i) (%)
DR(i) = dominansi relatif spesies (i) (%)
8.         Summed Dominance Ratio (SDR)
SDR(i) = INP(i) / 3
Dimana:
SDR(i) = Summed Dominance Ratio spesies (i)
INP(i) = indeks nilai penting spesies (i)


DAFTAR PUSTAKA

Hadisubroto, Tisno. 1989. Ekologi Dasar. Deptdikbud. Jakarta.
Irwanto. 2010. Analisis Vegetasi Parameter Kuantitatif. http://www.irwanto shut.net. Diakses pada hari Selasa, tanggal 18 April 2012, pukul 10.30 WITA.
Michael, P. 1995. Metode Ekologi untuk Penyelidikan Ladang dan Laboratorium. UI Press. Jakarta.
Rohman, Fatchur dan I Wayan Sumberartha. 2001. Petunjuk Praktikum Ekologi Tumbuhan. JICA. Malang.
Setiadi. 1984. Ekologi Tropika. ITB. Bandung
 Syafei, Eden Surasana. 1990. Pengantar Ekologi Tumbuhan. Bandung. ITB.






0 komentar:

Poskan Komentar