3/27/2013

METODE SAMPLING BIOTIK


BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang
Tidak mungkin bagi kita untuk menghitung setiap individu yang terdapat di alam suatu populasi ataupun di dalam suatu komunitas. Dalam mempelajari populasi ataupun komunitas,
biasanya dilakukan dengan cara mengambil sampel (contoh) atau sebagian kecil individu dari populasi atau komunitas tersebut, barulah dapat ditarik suatu kesimpulan tentang populasi atau tentang komunitas yang sedang dipelajari. Dalam penarikan contoh (sampling) harus menggunakan metode sampling yang tepat, sebab bila tidak hasil yang akan diperoleh akan bias (Umar, 2012).
Metode Capture-Recapture (tangkap-tandai-lepas-tangkap kembali-lepas) merupakan metode yang sudah populer digunakan untuk menduga ukuran populasi dari suatu spesies hewan yang bergerak cepat seperti ikan, burung, atau mamalia kecil. Metode Capture-Recapture yang biasa digunakan adalah metode Lincoln-Peterson. Individu yang ditangkap diberi tanda kemudian dilepaskan kembali dalam periode waktu yang pendek (1 hari). Setelah jangka waktu tertentu dilakukan penangkapan yang kedua yang kemudian diidentifikasi (Umar, 2012).
                        Untuk mengetahui bagaimana perbedaan populasi dari suatu tempat/lokasi yang berbeda serta untuk melatih para mahasiswa dalam menggunakan peralatan sederhana dalam menduga poplasi hewan bergerak, maka dilakukanlah percobaan ini.
I.2 Tujuan Percobaan
            Tujuan dari percobaan ini adalah:
1.      Untuk menduga atau mengetahui populasi dari suatu areal dengan menggunakan metode Lincoln-Peterson dan metode Zippin.
2.      Untuk melatih keterampilan mahasiswa dalam menerapkan teknik sampling organisme dan rumus sederhana dalam memprediksi keadaan suatu komunitas.

I.3 Waktu dan Tempat
            Pengambilan sampel dilakukan pada hari Jum’at, tanggal 6 Maret dan hari Sabtu tanggal 7 April 2012 pukul 06.00 sampai 08.30 WITA di depan Gedung Registrasi Universitas Hasanuddin dan percobaan ini dilaksankan pada hari Sabtu tanggal 7 April 2012 Pukul 10.30 sampai 15.00 WITA di  Laboratrorium Biologi Dasar, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi juga sering diartikan sebagai jumlah organisme dengan spesies yang sama menempati suatu tempat tertentu dalam jangka waktu tertentu. Jadi populasi bukan hanya orang, tetapi juga objek dan benda-benda alam yang lain. Populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada objek/subjek yang dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik/sifat yang dimiliki oleh objek/subjek itu. Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu. Apa yang dipelajari dari sampel itu. kesimpulannya akan dapat diberlakukan populasi. Untuk itu sampel yang diambil dari populasi harus betul-betul representatif (mewakili) (Sigit, 2007).
Penentuan besar kecilnya ukuran sampel tergantung pada antara lain, derajat Keseragaman Populasi (degree of homogenity). Semakin tinggi tingkat homogenitas populasi semakin kecil ukuran sampel yang boleh diambil, semakin rendah tingkat homogenitas populasi semakin besar ukuran sampel yang harus diambil, Tingkat Presisi yang diinginkan (level of precisions). Semakin tinggi tingkat pesisi yang diinginkan peneliti, semakin besar sampel yang harus diambil (Sugiana, 2008).
Karakteristik dasar populasi adalah besar populasi atau kerapatan. Pengukuran kerapatan mutlak ialah dengan cara penghitungan menyeluruh yaitu cara yang paling langsung untuk mengerti berapakah makhluk yang di pertanyakan di sutau daerah adalah menghitung makhluk tersebut semuanya dan metode cuplikan yaitu dengan menghitung proporsi kecil populasi pada rumus Paterson. Untuk metode sampling biotik hewan bergerak biasanya digunakan metode capture-recapture. Merupakan metode yang sederhna untuk menduga ukuran populasi dari suatu spesies hewan yang bergerak cepat seperti ikan, burung dan mamalia kecil. Metode CMMR ini dilakukan dengan mengambil dan melepaskan sejumlah kancing yang dianggap sebagai besarnya populasi yang ada menggunakan kancing hitam dan putih yang danggap sebagai populasi yang tersebar di alam (Resosoedarmo, 1990).
Capture Mark Release Recapture (CMMR) yaitu menandai, melepaskan dan menangkap kembali sampel sebagai metode pengamatan populasi. Merupakan metode yang umumnya dipakai untuk menghitung perkiraan besarnya populasi. Populasi merupakan wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Hal yang pertama dilakukan adalah dengan menentukan tempat yang akan dilakukan estimasi, lalu menghitung dan mengidentifikasinya, dan hasil dapat dibuat dalam sistem daftar. Suatu populasi dapat pula ditafsirkan sebagai suatu kolompok makhuk yang sama spesiesnya dan mendiami suatu ruang khusus pada waktu yang khusus (Resosoedarmo, 1990).
Terdapat beberapa metode sampling contohnya metose simple random sampling Dengan memberikan suatu nomor yang berbeda terhadap setiap anggota populasi, kemudian memilih sampel dengan menggunakan angka-angka random. Dalam metode ini semua elemen dari kerangka sampel diperlakukan sejajar dan tidak dilakukan  pembagian atau sub-sub lagi (Priyono, 2008).
Keuntungan menggunakan teknik ini, peneliti tidak membutuhkan pengetahuan tentang populasi sebelumnya, bebas dari kesalahan klasifikasi yang memungkinkan dapat terjadi; dan dengan mudah data di analisis serta kesalahan-kesalahan dapat dihitung. Kelemahan dalam teknik ini, peneliti tidak dapat memanfaatkan pengetahuan yang dipunyainya tentang populasi dan tingkat kesalahan dalam menentukan ukuran sampel lebih besar (Priyono, 2008).
Penarikan Sampel Secara Random sistematis (Systematic Random Sampling) Teknik ini merupakan pengembangan teknik sebelumnya hanya bedanya teknik ini menggunakan urutan-urutan yang alami. Caranya ialah pilih secara random dimulai dari antara ngka 1 dan integer yang terdekat terhadap ratio sampling (N/n); kemudian pilih item-item dengan interval dari integer yang terdekat terhadap ratio sampling.Keuntungan menggunakan sampel ini ialah peneliti menyederhanakan proses  penarikan sampel dan mudah dicek; dan menekan keanekaragaman sampel.Kerugian ialah apabila interval berhubungan dengan pengurutan periodik suatu populasi, maka akan terjadi keaneka-ragaman sampel (Priyono, 2008).
Salah satu cara penarikan sampel dalam metode ini ialah misalnya mengambil setiap nama ke 10 dari directori nomor telepon sehingga penarikan responden akan mempunyai interval 10. Dalam kasus seperti ini, cara pemilihan akan menjadi nonprobabilitas kecuali direktori telepon itu sudah dalam  bentuk random (Priyono, 2008).
Kepadatan populasi satu jenis atau kelompok hewan dapat dinyatakan dalam dalam bentuk jumlah atau biomassa per unit, atau persatuan luas atau persatuan volume atau persatuan penangkapan. Kepadatan pupolasi sangat penting diukur untuk menghitung produktifitas, tetapi untuk membandingkan suatu komunitas dengan komnitas lainnya parameter ini tidak begitu tepat. Untuk itu biasa digunakan kepadatan relatif. Kepadatan relatif dapat dihitung dengan membandingkan kepadatan suatu jenis dengan kepadatan semua jenis yang terdapat dalam unit tersebut. Kepadatan relatif biasanya dinyatakan dalam bentuk persentase (Soegianto, 1994).
Banyaknya variabel yang diteliti dan rancangan analisis yang akan digunakan. Semakin banyak variabel yang akan dianalisis, misalnya dengan menggunakan rancangan analisis tabulasi silang atau uji  chi-square of independen (uji chi kuadrat), mengingat adanya persyaratan pengujian hubungan antarvariabel yang tidak membolehkan adanya nilai frekuensi hasil penelitian < 1, maka ukuran sampelnya harus besar serta alasan-alasan Peneliti (waktu, biaya, tenaga, dan lain-lain) (Sugiana, 2008).
Model Peterson menangkap sejumlah individu dari sujumlah populasi hewan yang akan dipelajari. Individu yang ditangkap itu diberi tanda kemudian dilepaskan kembali dalam beberapa waktu yang singkat. Setelah itu dilakukan pengambilan ( Penangkapan Ke 2 terhadap sejulah individu dari populasi yang sama. Dari penangkapan kedua inilah diidentifikasi indifidu yang bertanda yang berasal dari penangkapan pertama dan individu yang tidak bertanda dari hasil penangkapan ke dua. Metode schanebel ini dapat digunakan untuk mengurangi ke tidak validan dalam metode Patersen. Metode ini membutuhkan asumsi yang sama dengan metode Peterson yang ditambahkan dengan asumsi bahwa ukuran populasi harus konstan dari suatu periode sampling dengan periode berikutnya. Pada metode ini penangkapan penandaan dan pelepasan hewan dilakukan lebih dari 2 kali. Untuk setiap periode sampling semua hewan yang belum bertanda diberi tanda dan dilepaskan kembali (Tarumingkeng, 1994).

BAB III
METODE KERJA

III. Alat
            Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah sweeping net, botol sampel, pulpen dan kertas.

III. Bahan
            Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah tinta spidol permanen warna merah dan sampel yang akan diamati

III. Cara Kerja
Cara kerja pada percobaan ini adalah :
1.      Di Lapangan
  •         Metode Lincoln-Peterson

1)      Ditentukan suatua areal yang akan diamati.
2)      Dilakukan penangkapan dengan hewan bergerak dengan menggunakan sweeping net, sweeping net diayunkan kekanan dan kekiri setiap kali melangkah (± 10 langkah) setelah diayunkan jarring sweeping net digulung agar sampel yang telah tertangkap tidak lepas.
3)      Dilakukan 3 kali pengambilan di lokasi yang berbeda, sampel yang telah tertangkap di keluarkan dari sweeping net kemudian dikumpulkan lalu setiap sampel kemudian diberi tanda dengan tinta spidol warna merah setelah itu dilepaskan kembali
4)      Penangkapan ke 2 dilakukan setelah selang waktu 24 jam, dilakukan penangkapan dengan sweeping net seperti pada penangkapan pertama. Semua hewan yang telah tertangkap dikumpulkan dan dihitung jumlahnya.
5)      Diperiksa apakah ada hewan yang ditandai pada penangkapan 1 tertangkap pada penangkapan ke 2 jika ada dihitung berapa jumlahnya dan dicatat.
b.   Metode Zippin
1)      Ditentukan suatua areal yang akan diamati.
2)      Dilakukan penangkapan dengan hewan bergerak dengan menggunakan sweeping net, sweeping net diayunkan kekanan dan kekiri setiap kali melangkah (± 10 langkah).
3)      Dilakukan 3 kali pengambilan di lokasi yang berbeda, kemudian dihitung berapa jumlah spesies yang tertangkap.
2.      Di Laboratorium
a.       Metode Lincoln - Peterson
Dilakukan perhitungan pendugaan populasi berdasarkan data yang telah diperoleh di lapangan dengan menggunakan metode Lincoln – Peterson dengan rumus :
N = (M) (n) / R
b           b.  Metode Zippin
Dilakukan perhitungan pendugaan populasi berdasarkan data yang telah diperoleh di lapangan dengan menggunakan metode Zippin dengan rumus :
N =  (n1)2/(n1-n2)

DAFTAR PUSTAKA

Resosoedarmo, Soedjiran. 1990. Pengantar Ekologi. PT Remaja Rosdakarya. Jakarta.

Soegianto, Agoes. 1994. Ekologi Kuantitatif. Penerbit Usaha Nasional. Surabaya.

Tarumingkeng, R. C. 1994. Dinamika Populasi Kajian Ekologi Kuantitatif. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta.

Umar, M. Ruslan. 2004. Ekologi Umum Dalam Praktikum. Universitas Hasanuddin. Makassar.

Sigit. 2007. Metodologi Penelitian Populasi dan Sampel. http://www.4skripsi. com. Diakses pada hari Minggu tanggal 8 April 2012. Pukul 22.00 WITA

Proyono. 2008. Ekologi Kuantitatif http://www.scribd.com. Diakses pada hari Minggu tanggal 8 April 2012. Pukul 22.10 WITA

Sugiana. 2008. Populasi dan metode Sampling. dankfsugiana.files. wordpress. com. Diakses pada hari Minggu tanggal 8 April 2012. Pukul 22.40 WITA


0 komentar:

Poskan Komentar