3/27/2013

KELEMBABAN RELATIF UDARA PADA TEMPAT BERBEDA

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar  Belakang
Dalam kehidupan di bumi ini kelembaban udara merupakan salah satu unsur penting bagi manusia, hewan dan tumbuhan. Kelembaban udara juga  menentukan bagaimana mahluk hidup tersebut dapat beradaptasi dengan kelembaban yang ada di lingkungannya.
Kelembaban udara biasanya digunakan untuk meningkatkan produktifitas dan perkembangan  tumbuhan budi daya (Tatang, 2006).
Dengan mengetahui kelembaban udara yang ada dilingkungan tempat yang akan di tanam tumbuhan, kita dapat menentukkan pemilihan jenis tanaman yang sesuai, misalnya tanaman bakau  yang ditanam pada daerah yang berkelembaban tinggi, bakau tersebut akan berkembang dan berproduktifitas dengan maksimal, sebaliknya jika bakau tersebut di tanam pada daerah yang mempunyai kelembaban yang rendah maka bakau tersebut tidak akan berproduktifitas dan berkembang secara maksimal (Tatang, 2006).
Tingkat kelembaban sangat bervariasi, terkadang tinggi dan tidak jarang rendah seperti contohnya jumlah vegetasi yang memenuhi tempat tersebut contohnya saja pada hutan hujan tropis yang dikenal sebagai daerah yang memiliki kelembaban yang relatif tinggi karena keadaan daerah tersebut yang dipenuhi pohon-pohon pada kanopi membentuk lapisan yang paling atas. Kanopi seringkali rapat, sehingga hanya sedikit sekali cahaya yang masuk akibatnya udara menjadi lembab karena kurangnya memperoleh sinar matahari, maka dari itu dilakukanlah percobaan ini (Tatang, 2006).

I. 2 Tujuan Percobaan
Tujuan dilakukannya percobaan ini yaitu :
1)      Untuk mengetahui perbedaan kelembaban relatif udara pada tempat / lokasi yang berbeda dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.
2)      Untuk melatih keterampilan mahasiswa dalam membaca dan mengoperasikan peralatan sederhana dalam mengukur kelembaban udara relatif.

I.  3 Waktu dan Tempat Percobaan
Percobaan ini dilakukan pada hari sabtu tanggal 17 Maret 2012 pukul 09.00 sampai 14.00 di Laboratotium Botani Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Hasanuddin.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Dalam kehidupan di bumi ini kelembaban udara merupakan salah satu unsur penting bagi manusia, hewan dan tumbuhan. Kelembaban udara juga  menentukan bagaimana mahluk hidup tersebut dapat beradaptasi dengan kelembaban yang ada di lingkungannya.Dalam bidang pertanian kelembaban udara biasanya digunakan untuk meningkatkan produktifitas dan perkembangan  tumbuhan budi daya (Safrizal, 2008).
Dengan mengetahui kelembaban udara yang ada dilingkungan tempat yang akan di tanam tumbuhan, kita dapat menentukkan pemilihan jenis tanaman yang sesuai, misalnya tanaman bakau  yang ditanam pada daerah yang berkelembaban tinggi, bakau tersebut akan berkembang dan berproduktifitas dengan maksimal, sebaliknya jika bakau tersebut di tanam pada daerah yang mempunyai kelembaban yang rendah maka bakau tersebut tidak akan berproduktifitas dan berkembang secara maksimal (Safrizal, 2008).
Kelembapan adalah konsentrasi uap air di udara. Angka konsentasi ini dapat diekspresikan dalam kelembapan absolut, kelembapan spesifik atau kelembapan relatif. Alat untuk mengukur kelembapan disebut higrometer. Sebuah humidistat digunakan untuk mengatur tingkat kelembapan udara dalam sebuah bangunan dengan sebuah pengawalembap (dehumidifier) (Suwardjo, 2008).
Dapat dianalogikan dengan sebuah termometer dan termostat untuk suhu udara. Perubahan tekanan sebagian uap air di udara berhubungan dengan perubahan suhu. Konsentrasi air di udara pada tingkat permukaan laut dapat mencapai 3% pada 30 °C (86 °F), dan tidak melebihi 0,5% pada 0 °C (32 °F) (Suwardjo, 2008).
Uap air adalah suatu gas, yang tidak dapat di lihat, yang merupakan salah satu bagian dari atmosfer. Kabut dan awan adalah titik air atau butir-butir air  yang melayang-layang di udara. Kabut melayang laying dekat permukaan tanah, kalau awan melayang- layang di angkasa. Banyaknya uap air yang dikandung oleh hawa tergantung pada temperatur. Makin tinggi temperatur makin banyak uap air yang dapat dikandung oleh hawa (Hardjodinomo, 1975).
Seperti gas-gas lainnya, uap air juga mempunyai tekanan, yang makin lebih besar apabila temperatur naik. Tekanan tersebut dinamakan tekanan uap. Tekanan uap adalah tekanan yang diberikan atau ditimbulkan oleh uap air sebagai bagian dari udara pada temperatur yang tertentu. Tekanan uap itu adalah juga bagian dari tekanan udara semuanya dapat diukur dengan milimeter air raksa atau milibar. Jika udara pada suatu temperatur sudah kenyang (jenuh) maka tekanan uap pada temperatur tersebut mencapai maksimum. Angka maksimum tersebut disebut tekanan uap maksimum (Zailani, 1986).
Proses perubahan air menjadi uap air di sebut pengupan (vaporisasi atau evaporasi). Molekul-molekul air yang mempunyai energi kinetik yang cukup untuk mengatasi gaya-gaya tarik yang cenderung untuk menahannya dalam badan air diproyeksikkan melalui permukaan air. Oleh karena energi kinetik bertambah dan tegangan permukaan berkurang ketika temperatur naik, maka laju penguapan naik menurut temperatur. Hampir semua uap di atmosfer adalah hasil penguapan dari permukaan air (Linsley, 1989).
Tinggi rendahnya kelembaban sangat bervariasi di suatu tempat karena sangat bergantung pada beberapa faktor, seperti suhu, tekanan udara, pergerakan angin, kuantita dan kualitas penyinaran vegetasi, dan ketersediaan air di suatu tempat (air tanah, perairan). Tempat yang biasanya memiliki tingkat kelembaban yang tinggi adalah hutan hujan tropis karena keadaan tempat tersebut yang didominasi oleh pohon-pohon dengan permukaan daun yang lebar sehingga menghalangi masuknya cahaya matahari ke tempat tersebut (Ferdinand, 2007).
Beberapa prinsip yang umum digunakan dalam pengukuran kelembaban udara yaitu metode pertambahan panjang dan  berat, pada benda-benda higroskopis, serta metode termodinamika. Alat pengukur kelembaban udara secara umum disebut hygrometer sedangkan yang menggunakan metode termodinamika disebut psikrometer (Gunarsih, 1990).
Hygrometer adalah alat untuk mengukur kelembapan udara. Biasanya ditempatkan di dalam box penyimpanan barang yang memerlukan kelembapan yang terjaga seperti dry box penyimpanan kamera. Keadaan ini akan mencegah pertumbuhan jamur yang menjadi musuh pada peralatan tersebut.
Pada reed case diatas, hygrometer yang digunakan mempunyai skala dari 0 hingga 100. Kelembapan ideal berada pada nilai 40 sampai 70 (Huzaifah, 2009).
Apabila jarum penunjuk berada pada nilai dibawah 40, anda harus menambahkan air pada tempat yang sudah disediakan (terletak disebelah kiri).
Hygrometer reed case sangat berguna apabila konsentrasi uap air di udara sangat
rendah. Hygrometer mempunyai prinsip kerja yaitu dengan menggunakan dua thermometer. Thermometer pertama dipergunakan untuk mengukur suhu udara biasa dan yang kedua untuk mengukur suhu udara jenuh/lembab (bagian bawah thermometer diliputi kain/kapas yang basah) (Huzaifah, 2009).
Thermometer Bola Kering: tabung air raksa dibiarkan kering sehingga akan mengukur suhu udara yan sebenarnya. Thermometer Bola Basah: tabung air raksa dibasahi agar suhu yang terukur adalah suhu saturasi/ titik jenuh, yaitu; suhu yang diperlukan agar uap air dapat berkondensasi (Huzaifah, 2009).
Hal-hal yang sangat mempengaruhi ketelitian pengukuran kelembaban dengan mempergunakan Psychrometer ialah  sifat peka, teliti dan cara membaca thermometer-thermometer, kecepatan udara melalui Thermometer bola basah ukuran, bentuk, bahan dan cara membasahi kain, letak bola kering atau bola basah, suhu dan murninya air yang dipakai untuk membasahi kain (Huzaifah, 2009).
Hygrometer digunakan untuk mengukur kelembaban udara relatif (RH). Proses Pengukuran. Higrometer terdapat dua skala, yang satu menunjukkan kelembaban yang satu menunjukkan temperatur. Cara penggunaannya dengan meletakkan di tempat yang akan diukur kelembabannya, kemudian tunggu dan bacalah skalanya (Huzaifah, 2009).
Skala kelembaban biasanya ditandai dengan huruf h dan kalau suhu dengan derajat celcius.Ada bentuk higrometer lama yakni berbentuk bundar atau berupa termometer yang dipasang didinding. Cara membacanya juga sama, bisa dilihat pada raksanya di termometer satu yang untuk mengukur kelembaban dan satu lagi yang mengukur suhu yang bundar yang dibaca skalanya (Huzaifah, 2009).
Perlu diperhatikan pada saat pengukuran dengan hygrometer selama pembacaan haruslah diberi aliran udara yang berhembus kearah alat tersebut, ini dapat dilakukan dengan mengipasi alat tersebut dengan secarik kertas atau kipas. Sedangkan pada slink alatnya harus diputar .Sebuah sistem kalibrasi higrometer telah dirancang dan dibuat dalam rangka peningkatan kemampuan kalibrasi higrometer untuk menghasilkan sebuah sistem kalibrasi yang dapat memberikan kemampuan ukur terbaik di bawah 2,5% (Huzaifah, 2009).
 Sistem yang dibangun memanfaatkan prinsip kerja divided flow atau aliran terbagi. Pengujian dilakukan terhadap sistem tersebut pada rentang kelembaban relative yang biasa dipakai untuk melakukan kalibrasi, yaitu dari 10% hingga 95%. Pengukuran ketidakseragaman test chamber telah dilakukan pada rentang kelembaban tersebut dengan menggunakan dua buah sensor. Hasil akhir pengujian menunjukkan sistem yang dibangun mampu memberikan kemampuan ukur terbaik masing-masing adalah 0,62% pada RH 10% dan 0,51% pada RH 60% dan 95% (Huzaifah, 2009)
Higrometer terdapat dua skala, yang satu menunjukkan kelembaban yang satu menunjukkan temperatur. Cara penggunaannya dengan meletakkan di tempat yang akan diukur kelembabannya, kemudian tunggu dan bacalah skalanya. skala kelembaban biasanya ditandai dengan huruf h dan kalau suhu dengan derajat celcius (Tim Sindikat Pendidikan, 2009).

BAB III
METODE PERCOBAAN

III. 1 Alat
Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah termometer (air raksa/alkohol), sling psychrometer, botol air/hand sprayer, dan tabel kelembaban relatif udara

III. 2 Bahan
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah kapas Gossypium sp dan air.

III. 3 Prosedur Percobaan
a.       Pengukuran kelembaban udara dengan cara manual
1)      Disediakan 2 buah thermometer (skala 1-100), dimana salah satu dari termometer di bagian ujung pangkal yang mengandung air raksa / alkohol, kemudian dibalut kapas secukupnya dan diikat dengan karet gelang.
2)      Kapas yang sudah diikat dibasahi secukupnya dengan dicelupkan ke dalam botol air atau dengan disemprotkan dengan hand sprayer.
3)      Kedua termometer digantung (satu basah dan satu kering pada tempat yang dipilih) sambil dikipas-kipas selama kurang lebih 3 menit.
4)      Pengamatan dilakukan setiap selang waktu 3 menit sebanyak 3 kali pada setiap tempat  yang dipilih (dalam ruangan / laboratorium botani, tempat terbuka / pelataran MIPA, dan dibawah pohon / canopy).
5)      Nilai dari hasil pembacaan pada kedua thermometer (basah dan kering) dicatat dalam bentuk tabel.
b.      Pengukuran kelembaban udara dengan Sling Psychrometer
1)      Satu alat sling psychrometer diambil, kemudian termometer kering dan basah ditarik keluar dari kotak skala pada alat tersebut.
2)      Pada salah satu unung termometer  terdapat sumbu yang dihubungkan antara kotak / tempat pembasahan dengan ujung thermometer basah. Kalau sumbu tidak tersambung atau terbalut dengan salah satu ujung thermometer, sumbu tersebut disambungkan dengan ujung thermometer basah.
3)      Sumbu tersebut dibasahi dengan air secukupnya, kemudian kotaknya ditutup.
4)      Thermometer basah dan kering diayunkan dengan cara memutar-mutarnya di udara seperti baling-baling.
5)      Pengamatan / pembacaan dilakukan setiap 3 menit pengayunan pada thermometer basah dan kering, jumlah pengamatan sesuai sebanyak 3 kali, dengan interval waktu setiap pengamatan 3 menit.
6)      Tabel hasil pembacaan dibuat pada setiap lokasi pengamatan yang berbeda.
7)      Untuk pembacaan kelembaban relative udara dapat dilakukan dengan didempetkan hasil pembacaan skala termometer basah dan kering pada skala yang terdapat di sling psychriometer
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. 1 Hasil
Tabel Pengamatan
TEMPAT
TERMOMETER BIASA
SLING PSYCHROMETER
Basah
Kering
KR
Basah
Kering
KR
Dalam Ruangan
(Laboratorium botani)
24
41
20
29
27
83
25
41
28
29
27
83
25
41
28
30
28
87
Rata-rata
24,667
41
25,33
29,33
27,33
84,33
Di bawah pohon (Canopy)
30
29
94
29
30
94
29
30
94
28
32
78
29
31
91
27
31
75
Rata-rata
29,33
30
93
28
31
82,33
Pealataran MIPA
29
35
68
30,5
36
84
29,5
36
65
29
35
70
31
36
69
28
34
69
Rata-rata
29,83
35,67
67,33
29,16
35
74,33

IV. 2 Pembahasan
Dari pengukuran menggunakan thermometer dan sling psychrometer di tiga tempat yang berbeda yakni di dalam ruangan (laboratorium botani), di bawah pohon (canopy), dan di luar ruangan (pelataran MIPA) diperoleh hasil, dengan menggunakan termometer  percobaan dalam ruangan (laboratorium botani) dengan menggunakan termometer biasa dan menghasilkan termometer basah menghasilkan rata-rata 24,667 dan termometer kering rata-rata kelembapan yang diperoleh yaitu 41 dengan rata-rata kelembaban relatif 25,33 yang artinya kelembaban di tempat ini relatif rendah namun jika dilihat dari suhu yang ditunjukkan oleh thermometer sebenarnya terjadi kesalahan karena suhu di Makassar tidak pernah mencapai 41 derajat celcius. Pengamatan kedua dilakukan di bawah pohon (canopy) dan rata-rata yang diperoleh dari termometer basah yaitu termometer basah yaitu  29,33, sedangkan rata-rata yang diperoleh dari termometer kering yaitu 30 dengan rata-rata kelembaban relative pada tempat ini adalah 93 hal ini menunjukkan bahwa kelembaban di tempat ini cukup tinggi. Pada percobaan yang dilakukan di luar  (pelataran MIPA) diperoleh rata-rata kelembaban pada termometer basah 29,83 dan pada termometer kering 35,67 dengan rata-rata kelembaban relatif pada tempat ini adalah 67,33 hal ini menunjukkan bahwa kelembaban di tempat ini cukup tinngi.
Sementara pengukuran dengan menggunakan sling psychrometer percobaan dalam ruangan (laboratorium botani) diperoleh, termometer basah menghasilkan rata-rata 29,33 dan termometer kering rata-rata kelembapan yang diperoleh yaitu 27,33, dengan rata-rata kelembaban relatif 84,33. Pengamatan kedua dilakukan di bawah pohon (canopy) dan rata-rata yang diperoleh dari termometer basah yaitu  28, sedangkan rata-rata yang diperoleh dari termometer kering yaitu 31 dengan rata-rata kelembaban relatif yaitu 82,33. Pada percobaan yang dilakukan di luar ruangan (pelataran MIPA) diperoleh hasil, pada termometer basah dengan rata-rata kelembaban 29,16 dan pada thermometer kering diperoleh kelembaban dengan rata-rata 35 dan rata-rata kelembaban relatif pada tempat ini adalah 74,33. 
Dari percobaan yang dilakukan di ketiga tempat tersebut dapat diperoleh kesimpulan bahwa tempat dengan kelembaban tertinggi yaitu di bawah poho (canopy). Hal ini dipengaruhi oleh vegetasi yang berada di tempat tersebut seperti yang kita ketahui bahwa jumlah vegetasi di suatu tempat juga mempengaruhi tingkat kelembaban di tempat tersebut. Seperti yang diketahui bahwa di canopy didominasi oleh pohon-pohon dengan daun yang lebar dan lebat sehingga menghalangi proses masuknya sinar matahari sehingga tingkat penyinaran yang diterima oleh tempat tersebut juga kurang sehingga kelembaban di tempat tersebut cukup tinggi. 



BAB V
                         PENUTUP

V. 1 Kesimpulan
Kesimpulan yang diperoleh dari percobaan ini adalah:
1)      Kelembaban udara dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti suhu, tekanan udara, pergerakan angin, kuantitas dan kualitas penyinaran, vegetasi dan ketersediaan air di suatu tempat (air tanah, perairan).
2)      Kelembaban udara dapat diukur menggunakan Sling Psychrometer dan Hygrometer.

V. 2 Saran
Saran untuk percobaan ini mungkin bisa lebih diperbanyak jumlah alat yang digunakan sehingga bisa lebih mempermudah dalam pengukuran.

DAFTAR PUSTAKA


Gunarsih. 1990. Klimatologi Pengaruh Iklim Terhadap Tanah dan Tanaman. Bumi Aksara. Jakarta.

Hardjodinomo. 1975. Klimatologi. Universitas Indonesia Press. Jakarta.

Linsley K. Ray. 1989.  Hidrologi Untuk Insinyur.  Erlangga. Jakarta.

Suwardjo.  2008. Iklim dan Cuaca. Bumi Aksara. Jakarta.

Tatang, 2006.  Ilmu Iklim dan Pengairan. Binacipta. Bandung.

Zafrisal. 2008. Suhu dan Kelembaban. Erlangga. Jakarta.

Ferdinand. 2007. Produksi Tanaman Karet Hevea Brasiliensis di Daerah Bercurah Tinggi di Kabupaten Bogor.  http://io.ppijepang.org. Diakses pada hari Rabu tanggal 12 Maret 2012. Pukul 09.35.

Huzaifah. 2009. Kelembaban Udara. http://reflitepe08.blogspot.com Diakses pada hari Rabu tanggal 12 Maret 2012. Pukul 09.35.







0 komentar:

Poskan Komentar